Jakarta(initogel login) — Di balik sorot lampu runway dan gemuruh tepuk tangan, ada denyut ekonomi kreatif yang terus bergerak. Fashion bukan sekadar gaya, melainkan ruang hidup bagi jutaan pekerja—dari penjahit rumahan, perajin kain, hingga desainer muda yang merintis mimpi. Dalam konteks itulah Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menekraf) menyatakan dukungan terhadap Jakarta Fashion Week (JFW) 202, sebagai pengungkit gerakan ekonomi kreatif nasional yang inklusif dan berkelanjutan.
Dukungan ini bukan sekadar seremoni. Ia adalah komitmen untuk menjadikan fashion sebagai motor pemulihan dan pertumbuhan—menjaga mata pencaharian, membuka pasar, dan memastikan ekosistem kreatif berjalan aman serta bermartabat.
Fashion sebagai Ekonomi Kehidupan
Industri fashion menyentuh hajat hidup banyak orang. Ketika satu koleksi diluncurkan, rantai nilai ikut bergerak: bahan baku diproduksi, tenaga kerja diserap, logistik berjalan, dan UMKM mendapat pesanan. Menekraf melihat JFW sebagai panggung strategis untuk menghubungkan kreativitas dengan pasar, memperkuat daya saing, dan menciptakan lapangan kerja.
Pendekatan ini menempatkan keselamatan publik dan kesejahteraan pekerja sebagai fondasi. Produksi yang bertanggung jawab, praktik kerja yang adil, serta kepatuhan pada regulasi menjadi bagian tak terpisahkan dari pertumbuhan.
Panggung Inklusif bagi Talenta Lokal
JFW dikenal membuka ruang bagi desainer lintas generasi—dari nama mapan hingga pendatang baru. Menekraf mendorong agar panggung ini semakin inklusif: memberi kesempatan desainer daerah, pelaku UMKM, dan perajin tradisional untuk tampil sejajar.
Bagi banyak desainer muda, JFW bukan hanya ajang pamer karya, tetapi titik balik kehidupan. Ada yang untuk pertama kalinya mendapat pesanan internasional, ada pula yang menemukan mitra produksi. Cerita-cerita ini menjadi wajah human interest dari ekonomi kreatif: kerja keras yang akhirnya bertemu peluang.
Keamanan, Etika, dan Keberlanjutan
Dukungan Menekraf juga menekankan standar penyelenggaraan yang aman dan beretika—mulai dari keselamatan acara, perlindungan hak kekayaan intelektual, hingga keberlanjutan lingkungan. Isu ini semakin penting di tengah tuntutan konsumen global akan transparansi dan tanggung jawab.
Penggunaan material ramah lingkungan, pengurangan limbah, serta pelacakan rantai pasok didorong agar fashion Indonesia tumbuh tanpa meninggalkan jejak sosial dan ekologis yang merugikan.
Kolaborasi sebagai Kunci
Ekonomi kreatif tak bisa berjalan sendiri. Menekraf mendorong kolaborasi lintas sektor—pemerintah, industri, komunitas, dan pendidikan—agar inovasi berkelanjutan. Di JFW, kolaborasi itu terlihat dalam pertemuan ide, transfer pengetahuan, hingga inkubasi bisnis.
Bagi UMKM, kolaborasi berarti akses pembiayaan, pelatihan, dan pasar. Bagi pekerja, ia berarti kepastian kerja dan peningkatan keterampilan. Bagi konsumen, ia menghadirkan produk yang aman, berkualitas, dan bermakna.
Dari Runway ke Kehidupan Sehari-hari
Yang ingin dicapai bukan hanya tren sesaat, melainkan dampak nyata. Menekraf menilai JFW sebagai jembatan agar kreativitas di runway bisa diterjemahkan menjadi produk yang dipakai sehari-hari—terjangkau, berkualitas, dan mencerminkan identitas Indonesia.
Ketika satu koleksi sukses, efeknya merembet: bengkel jahit bertambah pesanan, perajin kain kembali bekerja, dan keluarga pekerja mendapat kepastian penghasilan. Di sanalah ekonomi kreatif menemukan ruh kemanusiaannya.
Menjaga Api Kreativitas Tetap Menyala
Dukungan Menekraf terhadap JFW 202 adalah penegasan bahwa negara hadir untuk merawat ekosistem kreatif—bukan hanya merayakan hasilnya. Dengan panggung yang inklusif, standar yang aman, dan kolaborasi yang kuat, fashion Indonesia diharapkan terus melaju.
Di balik gemerlap runway, ada kehidupan yang bergerak. Dan ketika kreativitas diberi ruang, ekonomi tumbuh dengan cara yang lebih adil, aman, dan membumi.