cvtogel login – Di sepanjang jalan protokol Jakarta, deretan tiang beton itu sudah terlalu lama berdiri tanpa fungsi. Ia menjadi saksi bisu dari rencana besar yang tak pernah benar-benar tiba di stasiun akhir. Kini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengambil keputusan tegas: mengalokasikan dana sekitar Rp100 miliar untuk membongkar tiang-tiang monorel yang mangkrak.

Keputusan ini menutup satu bab panjang proyek transportasi yang tertinggal di tengah perubahan wajah ibu kota. Bagi warga, pembongkaran bukan sekadar urusan beton dan anggaran, melainkan tentang membersihkan ruang kota dari simbol kegagalan perencanaan.

Tiang yang Menyita Ruang dan Ingatan

Proyek Monorel Jakarta pernah digadang-gadang menjadi solusi kemacetan. Namun waktu berjalan, kebijakan berganti, dan realitas berbicara lain. Tiang-tiang itu tertinggal—menyempitkan pandangan, memakan ruang visual kota, dan kerap dipertanyakan warga: sampai kapan?

Bagi pedagang kaki lima, pengguna jalan, dan warga sekitar, keberadaan tiang mangkrak bukan hanya soal estetika. Ia menghadirkan kesan kumuh, mengganggu tata kota, dan menjadi pengingat bahwa proyek besar tanpa kepastian bisa meninggalkan beban jangka panjang.

Rp100 Miliar: Mahal, Tapi Dianggap Perlu

Anggaran Rp100 miliar untuk pembongkaran memantik diskusi publik. Angka itu besar—dan wajar jika publik bertanya. Namun Pemprov DKI menilai langkah ini sebagai investasi penataan kota, bukan pemborosan.

Tiang monorel yang dibiarkan berdiri justru berpotensi menimbulkan biaya lain: perawatan, risiko keselamatan, hingga hambatan pengembangan ruang publik dan transportasi masa depan. Dalam kerangka kebijakan publik, pembongkaran dipandang sebagai keputusan korektif—mahal, tetapi perlu untuk menghentikan kerugian yang berlarut.

Tata Kelola dan Pelajaran Penting

Kasus monorel Jakarta kembali menyoroti pentingnya tata kelola proyek infrastruktur. Dari perencanaan, pembiayaan, hingga keberlanjutan kebijakan lintas pemerintahan, semuanya harus berpijak pada kepastian dan akuntabilitas.

Pembongkaran ini menjadi pengakuan jujur bahwa tidak semua rencana berakhir sukses. Namun keberanian untuk menutup proyek mangkrak juga bagian dari tata kelola yang bertanggung jawab—daripada membiarkan kota menanggung beban simbolik dan fisik tanpa arah.

Membersihkan Kota, Memulihkan Kepercayaan

Bagi warga, pembongkaran tiang monorel memberi harapan sederhana: jalanan yang lebih lapang secara visual, ruang kota yang lebih tertata, dan keputusan pemerintah yang lebih tegas. Kota yang sehat bukan kota tanpa kesalahan, tetapi kota yang mau belajar dan berbenah.

Langkah ini juga menjadi pesan bahwa anggaran publik harus dikelola dengan orientasi manfaat nyata. Setiap rupiah yang dikeluarkan harus bermuara pada kualitas hidup warga—baik hari ini maupun ke depan.

Jakarta dan Masa Depan Transportasi

DKI kini menatap masa depan transportasi dengan pendekatan berbeda: integrasi, keberlanjutan, dan realisme kebijakan. Pembongkaran monorel membuka ruang—secara harfiah dan simbolik—bagi pengembangan kota yang lebih adaptif terhadap kebutuhan warganya.

Tiang-tiang itu mungkin akan segera hilang dari pandangan. Namun pelajarannya seharusnya tetap berdiri kokoh: bahwa pembangunan kota membutuhkan konsistensi, transparansi, dan keberanian untuk mengoreksi arah.

Di Jakarta, membongkar kadang bukan langkah mundur. Ia justru menjadi cara untuk melangkah lebih jujur ke depan.

By admin