Ngawi — Malam yang seharusnya berjalan tenang berubah menjadi penuh kepanikan. Puluhan santri di Ngawi harus dilarikan ke rumah sakit setelah diduga mengalami keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Satu per satu mereka tiba di ruang instalasi gawat darurat, terbaring lemah di atas brankar, dengan wajah pucat dan tubuh yang tak lagi sekuat sebelumnya.

Di balik pintu IGD, tenaga medis bekerja cepat. Infus dipasang, pemeriksaan dilakukan, dan keluarga serta pengasuh pesantren menunggu dengan cemas. Tidak sedikit yang berdoa lirih, berharap para santri segera pulih.

Gejala Muncul Usai Santap Makanan

Dugaan keracunan bermula ketika sejumlah santri mengeluhkan mual, pusing, dan nyeri perut beberapa jam setelah mengonsumsi makanan. Keluhan itu cepat menyebar. Dalam waktu singkat, jumlah santri yang merasakan gejala serupa bertambah.

Situasi ini memaksa pihak pesantren mengambil langkah cepat. Para santri yang kondisinya melemah segera dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan medis. Prioritas diberikan pada mereka yang mengalami gejala lebih berat.

RS Siaga Tangani Pasien Bertambah

Di rumah sakit, suasana berubah menjadi siaga. Ruang perawatan darurat dipenuhi pasien muda yang membutuhkan penanganan hampir bersamaan. Tenaga medis berusaha menjaga ketenangan, meski beban kerja meningkat dalam waktu singkat.

Penanganan dilakukan sesuai prosedur medis. Pasien dipantau secara intensif untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. Hingga kini, sebagian santri masih menjalani observasi, sementara lainnya mulai menunjukkan tanda-tanda membaik.

Kekhawatiran Orang Tua dan Pengasuh

Bagi para orang tua, kabar ini menjadi ujian emosional. Banyak yang datang terburu-buru ke rumah sakit setelah menerima informasi dari pihak pesantren. Melihat anak-anak mereka terbaring lemah menjadi pengalaman yang sulit diterima.

Pengasuh pesantren pun ikut terpukul. Mereka menegaskan bahwa keselamatan santri adalah prioritas utama. Dugaan keracunan ini menjadi peristiwa yang sama sekali tidak diharapkan dalam lingkungan pendidikan yang seharusnya aman dan menenangkan.

Aspek Keamanan Pangan Jadi Sorotan

Kasus ini kembali menyoroti pentingnya keamanan pangan, terutama pada program yang menyasar anak dan remaja. Makanan yang dimaksudkan untuk menyehatkan justru diduga menimbulkan dampak sebaliknya.

Pemeriksaan terhadap sampel makanan dan proses penyajian menjadi langkah krusial untuk memastikan penyebab kejadian. Kejelasan diperlukan agar kejadian serupa tidak terulang dan kepercayaan publik tetap terjaga.

Pendekatan Kemanusiaan dalam Penanganan

Di tengah proses medis dan penyelidikan, pendekatan kemanusiaan menjadi hal utama. Para santri tidak hanya membutuhkan perawatan fisik, tetapi juga dukungan emosional. Tenaga medis, keluarga, dan pengasuh berupaya menciptakan suasana yang menenangkan di tengah situasi darurat.

Kejadian ini menjadi pengingat bahwa setiap kebijakan dan program publik harus selalu mengedepankan keselamatan penerima manfaat. Di balik angka dan laporan, ada nyawa, ada anak-anak yang sedang menimba ilmu.

Menunggu Kepastian, Merawat Harapan

Hingga kini, kondisi para santri terus dipantau. Harapan terbesar adalah mereka dapat segera pulih dan kembali beraktivitas seperti sediakala. Sementara itu, masyarakat menanti kejelasan hasil pemeriksaan agar peristiwa ini tidak menjadi luka berulang.

Di ruang IGD Ngawi, malam itu menjadi saksi bahwa kepedulian, kecepatan penanganan, dan tanggung jawab bersama adalah kunci menghadapi situasi darurat—demi melindungi generasi yang sedang tumbuh dan belajar.

By admin