Malang, Jawa Timur (initogel) — Di balik deretan bangunan tua dan lorong-lorong sempit kawasan Kayutangan, denyut kehidupan kota terus bergerak. Sepeda motor berlalu-lalang, warga bercengkerama di depan rumah, dan aktivitas ekonomi kecil tumbuh berdampingan dengan sejarah panjang kawasan ini. Di tengah kepadatan tersebut, Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (Kemen-PKP) mulai mengidentifikasi konsep penataan Kayutangan agar kawasan padat ini tetap layak huni tanpa kehilangan identitasnya.
Langkah ini menandai upaya pemerintah untuk menata kawasan bersejarah yang hidup—bukan dengan menggusur, melainkan memahami cara warga bertahan dan berkembang di ruang yang terbatas.
Kepadatan, Sejarah, dan Tantangan Ruang
Kayutangan dikenal sebagai salah satu kawasan ikonik di Kota Malang. Selain nilai sejarah dan arsitektur lama, kawasan ini juga dihuni oleh masyarakat dengan aktivitas harian yang padat. Rumah tinggal, usaha kecil, dan ruang sosial sering kali berbagi lahan yang sama.
Namun kepadatan membawa tantangan tersendiri: keterbatasan ruang terbuka, akses sirkulasi yang sempit, sanitasi yang perlu ditingkatkan, hingga kebutuhan hunian yang lebih sehat.
“Kawasan seperti Kayutangan tidak bisa ditangani dengan pendekatan biasa,” ujar salah satu pejabat Kemen-PKP. “Perlu konsep yang sensitif terhadap sejarah sekaligus kebutuhan warga.”
Identifikasi Berbasis Lapangan
Dalam proses identifikasi, tim Kemen-PKP turun langsung ke lapangan. Mereka menyusuri gang-gang sempit, mengamati pola bangunan, serta berdialog dengan warga dan pemangku kepentingan lokal. Pendekatan ini dilakukan untuk memahami bagaimana ruang digunakan sehari-hari, bukan hanya bagaimana ia terlihat di atas peta.
Bagi warga, kehadiran tim ini memunculkan harapan sekaligus rasa ingin tahu. “Kami ingin kawasan ini lebih rapi dan nyaman,” kata Pak Hadi, warga setempat. “Tapi jangan sampai kami kehilangan rumah atau mata pencaharian.”
Menata Tanpa Menghilangkan
Konsep penataan yang diidentifikasi Kemen-PKP menekankan prinsip peningkatan kualitas kawasan, bukan pengosongan wilayah. Penataan diarahkan pada perbaikan lingkungan, penguatan infrastruktur dasar, penataan fasad bangunan, serta peningkatan ruang publik skala kecil yang dapat dimanfaatkan bersama.
Kayutangan dipandang sebagai contoh kawasan padat yang memiliki potensi besar jika ditata dengan pendekatan kolaboratif. Sejarahnya menjadi nilai tambah, bukan hambatan.
“Penataan harus membuat warga betah tinggal, bukan merasa terancam,” ujar pejabat tersebut.
Warga sebagai Bagian dari Solusi
Salah satu poin penting dalam identifikasi ini adalah keterlibatan masyarakat. Kemen-PKP menilai bahwa warga Kayutangan bukan sekadar objek penataan, melainkan subjek utama yang memahami ritme kawasan.
Diskusi dengan warga membuka berbagai perspektif: kebutuhan parkir, akses pejalan kaki, pencahayaan lingkungan, hingga ruang untuk kegiatan sosial dan ekonomi kecil.
“Kalau lingkungan tertata, usaha kami juga lebih hidup,” kata Ibu Rina, pemilik warung kecil di kawasan tersebut.
Menjaga Identitas di Tengah Perubahan
Kayutangan bukan kawasan baru yang bisa dibangun ulang dari nol. Ia adalah ruang hidup dengan memori kolektif. Karena itu, identifikasi konsep penataan diarahkan untuk menjaga karakter kawasan—mulai dari skala bangunan, wajah jalan, hingga interaksi sosial yang telah terbentuk lama.
Penataan yang sensitif diharapkan mampu mempertemukan masa lalu dan masa depan: kawasan yang tetap bersejarah, namun lebih sehat, aman, dan nyaman.
Langkah Awal Menuju Kota yang Lebih Inklusif
Identifikasi konsep penataan Kayutangan ini menjadi langkah awal. Hasilnya akan menjadi dasar perencanaan lanjutan yang melibatkan pemerintah daerah dan masyarakat.
Bagi Kemen-PKP, Kayutangan adalah cerminan tantangan kota-kota di Indonesia: bagaimana mengelola kawasan padat tanpa mengorbankan manusia dan sejarah di dalamnya.
Di lorong-lorong Kayutangan, kehidupan terus berjalan. Dan melalui proses penataan yang tepat, kawasan ini diharapkan tidak hanya bertahan, tetapi tumbuh—menjadi ruang kota yang inklusif, berkarakter, dan layak huni bagi semua.